Adha-Adha Ajha.
P/nus cafe, 25 November 2009.
“Menurut gue sih ya, Tuhan versi gue ga sedangkal itu.”
Satu teguk latte meluncur membasahi mulut.
“Kita berdua itu… let’s say, gagal crew kan? Kita berdua ditolak sama tetannga and ended up here. Tapi kita sadar kan? Gue akhirnya ada di posisi ini. Juara debat, blah blah. Elo juga sekarang udah punya tujuan apa yang mau elo kejar. Lo kira ini semua kebeneran? Kayanya ngga deh. Ada entitas lain yang ngatur semua ini. Bikin semua pas pada tempatnya. Siapa lagi kalau bukan Tuhan?”
Diam. Suara pemain sepak bola melesakkan sebuah gol menggema dari LCD yang menggantung di sudut ruangan yang dimandikan cahaya matahari itu.
“Gue pernah liat tato yang ada di tangan pacarnya Olivia Jensen pas gue ketemu mereka di kasir Gramedia PVJ. ‘Deo, non fortuna’ tulisannya. Langsung gue google di BB dan artinya: From God, not From Chance. Gue percaya banget itu. Ada entitas lain yang bikin semua jadi bagus. Kalau aja tadi gue udah dijemput, dan ga mutusin buat ngopi-ngopi disini, pasti kita ga akan sampe ke pembicaraan yang berat gila ini kan? Semua itu bener ada yang ngatur. Kita harus bersyukur, saat banyak anak-anak lain yang gila eksis doang. Saat banyak anak-anak seumur kita yang bisanya nyimeng lah, ngentot lah, kita udah bisa nyampe ke titik ini. Titik dimana kita bisa liat segala sesuatunya dari sudut pandang lain. Titik dimana kita bener-bener bersyukur dan sadar banget akan adanya Tuhan yang ngatur ini semua.”
Mobil meluncur lalu-lalang di jalanan depan.
“Tuhan versi gue, bakal jauh lebih menghargain orang-orang kaya kita, yang duduk-duduk santai sambil nyeruput latte tapi beneran mikirin, ngomongin, dan ngerasain adanya keberadaan Dia dan kuasaNya. Daripada orang yang cuma Allahuakbar Allahuakbar, tapi ga pernah sadar kenapa Allah itu Maha Besar. Daripada orang yang ibadah segala rupa tapi cuma buat takut dosa. Agama, ritual, semuanya itu cuma cara buat nyampe situ aja. Yang penting intinya kan sama.”
“Bahkan tau ga sih, gue pikir konsep Neraka sama Surga itu dibikin buat maksa orang-orang yang ga mau ibadah. Yang ga bisa ngeliat kalau Tuhan mereka itu ada.”
“Gue sih jauh lebih bisa berpikir kaya gini ketika gue lagi di atas. Di saat gue bersyukur, dan ngeliat, betapa semua yang udah kita jalanin ini makes sense. Ada gunanya. Ada ujungnya. Sementara kalau gue gagal, gue bakal jatoh. Ngutuk, marah-marah. Benci sama Tuhan.”
Saatnya Adzan Maghrib untuk wilayah DKI Jakarta dan sekitarnya. Allahuakbar, Allahuakbar!
“Wah, udah sore. Pulang yuk?”
Tidak ada yang tergerak untuk shalat.
—
Kamar Tidur Kakak, 27 November 2009.
Sepertinya semua yang saya bicarakan dua hari yang lalu adalah bisikan setan. Tapi kenapa saya tetap tidak tergerak untuk Shalat ya? Setelah apa yang saya dapatkan, apa yang saya syukuri dan sadari sepenuhnya. Tapi kenapa keinginan itu hilang? Sementara jika saya butuh, doa saya bisa seperempat jam lamanya. Kenapa? Apakah sifat dasar manusia memang munafik, sampai kepada Tuhan juga kami semua munafik?
Adha-Adha Ajha. Selamat Idul Adha.
Sudahkah kamu menyapa Tuhanmu hari ini melalui sapi yang meronta-ronta dan darahnya yang muncrat kemana-mana?





