(Source: sagaji)
« Photo post
Photo post »
What’s Up With Prepositional Idioms?
« Text post
Kesempatan Kedua.
Sejak hari pertama Ira mengikuti bimbingan belajar tambahan di tempat baru ini, ada dua hal yang selalu mengganggunya: Pertama, warna tembok biru muda dan merah jambu terang yang menghiasi ruangan tempatnya belajar. Hal yang kedua? Januardi Akbar.
Perihal warna tembok, sudah belasan surat Ia layangkan pada pihak manajemen tempat itu untuk segera menggantinya dengan warna lain yang lebih bersahabat dengan mata. Tapi, masalah Ardi, tentu saja Ia tidak bisa menyuratinya begitu saja agar segera menjauh dari kehidupannya.
“Ardi, aku nggak ada waktu buat kamu. Aku mau fokus belajar.” ujar Ira sebagai alasan pertamanya. Ia tahu alasan ini terlalu klise untuk laki-laki nekat seperti Ardi, tapi saat itu, Ia hanya mencoba peruntungannya saja.
“Emang kamu mau ngejar universitas apa sih, Ra?” tanya Ardi, sambil sesekali berusaha untuk mencuri pandangan Ira. Jelas saja, Ira makin risih menjadi-jadi. Ia fokuskan semua pandangannya pada kertas yang berisi teori Trigonometri itu.
“Aku mau menuhin cita-cita orang tua buat masuk ITB, di. Aku tahu itu nggak gampang buat aku. Aku kan, nggak sepinter kamu.” kata Ira. Lagi-lagi klise.
“Alah, nggak usah ngerendah gitu, Ra. Lagian, aku pinter dari mana sih?”
Bagi Ira, pertanyaan itu sangatlah retoris.
Dari sejak mereka pertama bertemu di bangku kelas 3, Ira sudah sadar bahwa Ardi adalah seorang jenius yang sedikit gila. Ia adalah seniman kata sejati. Sehari-harinya, Ardi selalu membawa buku harian kecil bersampul kulit cokelat muda yang isinya… Puisi. Awalnya Ira hanya tertawa, mengira Ardi terjangkit virus Rangga dari Ada Apa Dengan Cinta. Tapi ketika suatu hari Ardi berhasil menyabet juara 1 nasional untuk lomba baca tulis puisi, Ira baru tersadar bahwa laki-laki itu tidak main-main. Terlebih ketika Ardi membacakan puisi-puisi ini di depan kelas.
Selain menulis dan membaca puisi, kegiatan utama lainnya yang Ardi lakukan sehari-hari adalah tidur di kelas. Temannya tidak banyak. Ia hampir tak pernah ikut bergabung ketika teman-temannya mengajak dia untuk bermain basket di waktu istirahat. Ia juga jarang terlihat keluar untuk jajan. Sepertinya, di dunia Ardi, hanya ada tiga hal: puisi, kasur, dan Ira.
Yang membuat Ira benci setengah mati pada Ardi adalah keberuntungannya, atau… Kejeniusannya itu. Dari kelas satu Ira selalu berada di peringkat satu, tak pernah tergeser. Semua nilai tugasnya lengkap. Ia hanya tak bisa Bahasa Jepang, itu saja. Sisanya bisa dibilang sempurna. Seorang Ira adalah tipikal gadis-gadis rajin yang kebetulan memiliki paras luar biasa cantik. Sayangnya, semester ini, semua nilainya disalip begitu saja, oleh seseorang yang sepertinya hanya punya satu seragam untuk seminggu, dan terlihat selalu mengantuk setiap saat. Siapa lagi kalau bukan si jenius/beruntung Januardi?
“Kamu yang nggak usah ngerendah, di. Ngomong sana sama kertas rapor.”
Ardi hanya bisa terkekeh, “Maaf deh, maaf. Ya udah, mulai sekarang boleh dong aku sombong terus ganti status BBM pake ‘FTSL ITB 2011’?” tanyanya.
Ira terhenyak, “Maksud kamu?”
“Iya, itu loh, aku sih mau nyindir anak-anak yang suka berdoa di status BBM aja. Emang kalau jurusan idaman kamu dipasang di sana, otomatis langsung masuk situ ya? Mimpi deh!” Ardi kembali tertawa. Rina yang kebetulan duduk di sebelah Ardi, buru-buru membuka Blackberrynya dan menghapus kata FH UI dari statusnya.
“Nggak lucu, di. Lagian maksud aku, kamu kok tiba-tiba mau masuk FTSL? Bukannya kamu mau Sastra UI ya?” tanya Ira.
“Sebabnya, ini.” Ardi segera membalik binder hijau muda yang dari tadi tergeletak pasrah di meja Ira. Ia membuka halaman pertama. Di sana, tertulis jelas dengan spidol berwarna emas dan perak: SEMANGAT TIRANI TIRTASARI FTSL ITB 2011!
“Kurang ajar kamu, di.”
Ardi tersenyum.
—-
Air mata sudah mulai menggenang di pelupuk Ira. Sambil terus-menerus menyebut nama Tuhannya, Ia membolak-balik lembaran koran-koran yang Ia beli pagi itu dengan tergesa-gesa. Nun jauh di Kalimantan, sepertinya orangtuanya pun sedang melakukan hal yang sama. Sebagai seorang perantau yang telah bersusah-payah berjuang di Bandung, hari ini adalah momen yang paling penting dalam hidupnya. Apakah mimpinya sebagai seorang Insinyur di bidang lingkungan akan terwujud? Apakah sang Ganesha bersedia memeluknya?
Jawabannya sederhana: Tidak. Realita menampar Ira pada usahanya yang ke-enam belas kali untuk membaca nama-nama kecil itu satu persatu. Hal yang membuat dadanya lebih sesak adalah sepotong nama itu. Enam belas kali membaca, enam belas kali juga Ia melihat nama Januardi Akbar tercantum dengan kode jurusan FTSL ITB disampingnya. Enam belas tusukan seolah-olah melayang ke jantung Ira, setiap tusukan selalu lebih sakit dari tusukan yang sebelumnya.
Blackberry Ira bergetar. Pesan itu dikirim oleh ayahnya. Tidak ada simbol-simbol berlebihan, atau huruf yang dibesar kecilkan. Semuanya sangat jelas dan sebening kaca: Coba lagi tahun depan, Ra.
Tahun depan? bathin Ira. Ia hanya bisa membayangkan, terjebak di tempat bimbingan belajar selama satu tahun, sementara teman-temannya dengan bangga mengenakan jaket biru Kampus Gajah. Satu tahun lagi keringat, air mata, dan usaha yang harus Ia keluarkan demi dapat menembus gerbang Ganesha nomor sepuluh.
Bendungan yang dari tadi Ia buat, langsung jebol begitu saja. Malam itu, bantal dan gulingnya harus ikhlas menerima butir-butir air mata Ira.
—-
Sungguh malang nasib Ira, karena Ia tinggal di tempat kost yang terbilang cukup dekat dengan SMA-nya, dan masih lumayan dekat dengan kampus Ganesha. Hari-hari Ira setelah itu dipenuhi dengan penderitaan yang hanya bisa Ia pendam sendiri. Lavenia, sahabat satu kamarnya, kini resmi menyandang status sebagai mahasiswi SAPPK ITB. Lalu Tomo dengan mudahnya mendapat beasiswa STEI ITB, karena prestasinya sebagai pemenang olimpiade TIK tahun lalu. Kini, semua orang sibuk membawa teman-teman barunya untuk mempersiapkan kegiatan ospek kampus ITB. Stiker-stiker gajah saja sudah mulai menempel dimana-mana.
Hanya Ira saja yang sepertinya yang kurang beruntung. Bahkan, Ia terlalu takut untuk bertanya mengapa pada Tuhannya.
“Ra, bantuin gue buat bikin tugas PRO-KM dong! Elo lagi ada kerjaan?” tanya Nia padanya.
“Boleh deh. Gue juga udah muak Ni, ngeliatin buku SNMPTN terus. Siapa tau aja kalau gue bantuin tugas ospek elo, siapa tau taun depan hokinya nempel ke gue juga.” jawab Ira, sedikit sinis campur pasrah.
“Ayo dong, Tirani cantik. Senyum dikit, aja, ya? InsyaAllah ra, orang pinter kaya elo pasti tahun depan bisa kok masuk ITB. Mungkin sekarang Allah mau—”
“Udah, Ni, udah.” potong Ira, sebelum Nia sempat menyelesaikan perkataannya. “Daripada buang waktu buat ngehibur gue, mending bikin tugas lo aja yuk, biar cepet beres.” Nia hanya dapat membalas dengan anggukan.
Di tengah-tengah segala kegiatan menggunting dan menggambar logo-logo gajah ini, tiba-tiba bayangan seseorang muncul di benak Ira. Ardi. Tiba-tiba saja, Ia membayangkan, Ardi melapisi kaus kumalnya dengan jaket olahraga ITB yang bergaris hijau neon itu, sambil sibuk menggunting nametagnya. Bayangan berpindah menjadi Ardi yang dengan sepatu bututnya itu, melangkah dengan pasti memasuki gerbang ITB, berjalan dengan gagah di sepanjang boulevardnya. Dada Ira mendadak terasa sakit. Ia butuh untuk melampiaskan kesedihannya.
“Nia, elo pernah liat Ardi nggak, di kampus?” tanya Ira.
“Ardi? Januardi Akbar si freak puisi itu? Emang dia keterima ITB? Bukannya dia mau masuk Sastra apa lah gitu di UI, ya?” Nia malah balik memberondong Ira dengan rentetan pertayaan.
“Keterima kali, Nia. Dia kan… FTSL ITB.” Sebelum menyebut nama fakultas impiannya, Ira sengaja membuat jeda panjang terlebih dahulu. Sulit sekali baginya untuk mengikhlaskan kegagalannya itu.
“Masa sih? Tapi dipikir-pikir, gue emang udah nggak pernah loh, Ra, ngeliat Ardi. Waktu perpisahan di Homann juga dia nggak dateng, tuh. Kapan ya, gue terakhir liat dia?”
Ira mengingat momen terakhirnya melihat Ardi. Dua hari setelah pengumuman itu, ketika Ia harus pergi ke sekolah untuk melaporkan namanya pada guru Bimbingan dan Konseling. Saat itu, Ardi sedang melakukan hal yang sama. Ketika dua mata mereka bertemu di ruang BK yang sempit itu, Ira segera melepaskan pandangannya. Tapi Ardi, seperti biasanya, tak akan pernah menyerah. Ia selipkan sepotong kertas ditangannya. Sebelum membuang kertas itu ke tempat sampah, Ira sempat melirik apa yang tertulis di dalamnya. Sebuah puisi, dengan judul “Maaf”
Klise, pikir Ira. Kertas malang itupun melayang ke tempat sampah. Sejak itu pula, kabar tentang Ardi tak pernah terdengar lagi.
—-
“Ira, gue udah berusaha nanya ke Nanang yang FTSL juga. Kata dia, nama Ardi nggak pernah terdaftar di kelas manapun. Terus, kata anak-anak dari kelompok lain, dia juga nggak pernah dateng PROKM.”
Berita itu datang di sebuah malam yang sepi, lama setelah Ira berhenti memikirkan tentang impiannya yang direbut paksa itu. Saat itu, perasaannya tercampur-aduk. Kadang-kadang hidup memang lucu, pikirnya. Saat aku susah payah berusaha bisa menjadi pelajar ITB, Ardi seenaknya membuang kesempatan itu begitu saja? Tapi, jika memang benar Ia menghilang tanpa jejak, apakah benar Ia masih hidup dan baik-baik saja? Ira melayang-layang dalam pikirannya sendiri.
“Oh, gitu ya. Makasih banyak ya infonya, Ni. Mungkin dia nggak ngerasa cocok kali ya, masuk ITB. Yaa… Mungkin sekarang dia masuk Sastra di universitas apa gitu, di luar kota. Ya nggak sih?”
“Bener sih, Ra. Lagian dipikir-pikir, ngapain juga penulis puisi kayak dia masuk FTSL ITB? Apa coba alasannya?” tanya Nia, sebetulnya pada dirinya sendiri. Ira tentu saja tidak menjawab jujur. Rahasia tentang pilihan Ardi akan Ia bawa sampai mati, sendiri.
“Nggak tau, deh. Mungkin dia mau jadi penyair tentang lingkungan kali? Hahaha ngaco juga ya. Ya udah deh, Nia. Kita doain aja yang terbaik buat dia.”
Saat itu juga, seorang Tirani Tirtasari berhasil berdamai dengan masa lalunya. Ia sudah mengikhlaskan apapun yang terjadi pada hidupnya, maupun hidup Ardi. Yang harus Ia lakukan sekarang adalah berusaha sebaik mungkin, agar dapat menyusul teman-temannya ke ITB, tahun depan.
—-
Sudah satu tahun dan cat ruangan ini belum diganti juga? Parah ya, tempat ini! keluh Ira dalam hati. Kalau saja tempat les ini bukan pilihan langsung ayahnya, Ia pasti akan memilih tempat lain dengan warna dinding yang tidak kelewat mencolok. Perasaannya kembali ke tempat itu, seperti bertemu dengan seorang sahabat lama. Kursi-kursi dan papan tulis yang sama. Guru-guru yang sama. Hanya teman-teman sekelasnya saja yang berbeda. Ia masih menggenggam binder hijau mudanya yang sudah terisi penuh dari catatan tahun lalu. Di hari pertama bimbingan belajar itu, Ira seperti terlahir kembali. Ia memiliki semangat baru yang tak pernah ada di sana sebelumnya.
Segala target yang Ia buat tahun lalu, sudah Ia hapus tahun ini. Ira tahu kesalahannya tahun lalu. Dulu, Ia hanya berfokus untuk mendapatkan persentase tertinggi, nilai terbaik, rangking nomor wahid, dan sebagainya. Hidupnya adalah serangkaian obsesi dan mimpi untuk memasuki ITB, tanpa menghiraukan apa yang sebetulnya menjadi esensi dari semua ini: belajar dan mencari ilmu.
Maka itu, jam-jam panjang yang akan Ia habiskan di tempat bimbingan belajar ini akan Ia fokuskan seutuhnya untuk menjangkau sebanyak-banyaknya ilmu yang belum Ia ketahui. Saat ini, Tirani Tirtasari adalah sebuah gelas kosong yang siap untuk diisi.
Ia tidak menyangka, akan ada pula seseorang yang siap mengisi hatinya.
“Apa kabar?”
Tidak ada pertanyaan yang lebih formal lagi yang dapat terucap dari mulut seorang Januardi Akbar. Masih dengan tampilannya yang sama: kaus usang, sepatu belel, tapi tentu dengan wajah yang terlihat jauh lebih dewasa dari sebelumnya. Ingin rasanya Ira memberondongnya dengan ratusan pertanyaan, mulai dari “Kenapa kamu nggak jadi ngambil FTSL-nya?” sampai “Kemana aja sih kamu?” atau “Kenapa kamu belum beli sepatu baru juga?” tapi hanya ada dua kata yang terlontar dari mulutnya.
“Baik. Kamu?”
“Baik juga. Mau maafin aku?” tanya Ardi. Sebetulnya pada titik ini, Ardi sudah mempersiapkan mental dan fisiknya untuk menerima tamparan dari Ira yang bertubi-tubi, atau tangisan mendadak Ira yang menjadi-jadi. Rupanya, Ira hanya mengangguk. Terdapat jeda yang cukup lama dan sangat canggung.
“Kamu masih ngejar ITB, ra?”
Ira tidak langsung menjawab. “Nggak tahu nih, kalau kamu gimana?”
Ardi juga tidak langsung menjawab. Ia malah membalik binder hijau yang tergeletak di meja, lalu membuka halaman pertamanya. Tidak ada kertas apapun disana. Tidak ada nama fakultas yang tercantum besar-besaran dalam warna emas atau perak. Hanya terdapat dua tulisan Arab dalam tinta biru tipis, yang samar-samar terbaca: Bismillah dan InsyaAllah.
“Aku sih kuliah dimana aja mau, asal sama kamu.”
Ardi tersenyum.
Untuk pertama kalinya, Ira balas tersenyum padanya.
Text post »
The First Step.
Today is the first day of the Water Dragon year, according to the lunar calendar. Coincidentally, it’s also the first day in my new gym. Yep, I just joined Celebrity Fitness later today. The salesman has so many different tricks, including that red ang pau with 50% discount inside, to finally made me seal the deal.
I’m writing this very proudly because I just took the first step on being the new person I always wanted to be, since many years ago.
Wish me luck.
—-
P.S. Anyway, when I tested my endurance on treadmill, or some other gruesome machines, I scored pretty well. Probably because I already mastered some breathing techniques. Hopefully it just goes better after this.
P.P.S. Hello, delayed onset muscle soreness a.k.a SHIT-I-CAN-BARELY-MOVE-MY-BODY-BECAUSE-IT-HURTS-SO-FUCKING-BAD.
« Text post
Band of Outsiders spring/2012
Sorry for reblogging shitty things like these. I just can’t help it. Turquoise, chinos, and some brown loafers are just… Pure love.
Photo post »
I feel so much better.
By acknowledging the facts about my weaknesses, I feel much stronger now.
Thank you, Tumblr.
Good night, everyone.
« Text post
i hate myself.
for being fat,
being lazy,
being prone to diabetes,
being addicted to something bad,
having completely no motivation to change,
feeling complacent all the time,
and just lying in bed all day long,
writing in tumblr,
about how much i hate myself,
for being fat,
being lazy,
being prone to diabetes,
being addicted to something bad,
having completely no motivation to change,
feeling complacent all the time,
and just lying in bed all day long,
writing in tumblr,
about how much i hate myself.
Text post »
Ambivalent, again.
I skipped school three times this week, and I arrived late in the other two days. Basically, I only attended 8 hours of effective school time, while I should have attended 40 hours. That is crazy. Worst part is, in the days when I was off from school, I did absolutely nothing. I watched an amazing concert, I visited my dream university far away in Singapore, but that was that. Nothing constructive or positive happened. I still can’t solve this never ending enigma of laziness that trapped me in the dark until now. I feel worthless.
Exactly a week from now, I will have my first ever SAT test. No matter how hard I try to convince myself that this is going to determine what my future is going to look like, this scumbag brain of mine always have its ways to convince me that the test is not serious at all.
“Look, Iyo, you’re already accepted at a university, and you still have two more chances in the July or September test to work hard. Why bother to study for the January one? This is only a trial.” That’s what my brain always told me. I’m such a fool for believing in these sweet excuses. The result? I still don’t have any clue on how to do the Math part of SAT, while actually it is as easy as Junior High School math.
I realized that I’m really lazy right now and I hate it. I hate myself for being so lazy. However, I do no effort whatsoever to stop this laziness. I keep on indulging myself in some unimportant guilty pleasures, such as watching more and more TV shows, drowning myself in some good novels, and so much more. These two contrasting things made me really, really confused. I feel bad all the time but I don’t have enough willingness to change.
I have talked the talk, now I need to walk the walk.
—-
Just now I have just finished watching a really touching episode of MTV reality show called “I Used To Be Fat”. The boy’s name is Joshua, he’s 18, and he has been fat for his entire life, just like me. He realized that his lifestyle was a total mess and he called for help. Luckily, a really funny hunk named Joey was there to help him as his personal trainer. Joey’s words were so motivational, he never put Josh down. The regimens lasted all summer long, for 110 days. This reality show touched me so bad because it just sends the right message deep down to the core of my pain and my insecurity. I know that my eating habit, no matter how scrumptious it is for myself today, is going to be a real threat for my future.
I’ve written this more than once before, yet I never actually lose some pounds. I just talk and talk and talk about my brilliant plans to lose weight but I never actually do it.
I officially hate myself.
I need a fix.
« Text post
I’m weird cause I hate goodbyes.
Reality struck me hard this evening, when I realized that things will not be the same anymore. This train of life I’m boarding is moving fast, and the signs of an ending and a new beginning have appeared.
My loyal driver, Om John, resigned from his position, because of several personal reasons. My SAT teacher and my lifetime inspiration, Mr. Karim, is also permanently replaced by an unknown Canadian teacher. My brother, Wisnu Raditya, moved out from this house to Jakarta because he finally got accepted in Kompas Gramedia Group. Today is the second day of his job, and I miss him so much already.
I always took this three people for granted. Om John has been around since I started high school, and he witnessed some of the most important moments in my life: laughter, tears, cuddles, break-ups, mental breakdowns, gossips, and so much more. He was just there, driving me around all day, and I don’t even know his full name until now. I shouted at him on the phone if he was late to pick me up, but he never shouted if I was late to give him some lunch money. I suddenly feel bad.
The pain is twice as big if I think about Mr. Karim. Anyone who has been taught by him must agree with me that he is a never ending source of inspiration. Words came out through his mouth like precious pearls. We talked a lot, about love, life, and even God. However, I still do not know him more personally. I wish that I could spend more time with him, not only for a year.
As for my brother, we were never close. Our most intimate conversation would probably be about gadgets, or Steve Jobs’ death. I never inquire about his personal life, I fully respect his privacy, and so does he. Now that his bedroom is empty, and I’m all alone in my bedroom; his presence, his laughter when he watch Running Man, and his habit to play music very loudly are dearly missed.
We don’t know what we got until they’re gone.
Good luck with your new lives, Om John, Mr. Karim, and Wisnu!
Text post »




