Plurk.com

line
Posted 4 weeks ago on October 9 2009


Permalink
According to Elisabeth Kubler-Ross, when we’re dying or have suffered a catastrophic loss, we all move through five distinct stages of grief. We go into denial because the loss is so unthinkable we can’t imagine it’s true. We become angry with everyone, angry with survivors, angry with ourselves. Then we bargain. We beg. We plead. We offer everything we have, we offer our souls in exchange for just one more day. When the bargaining has failed and the anger is too hard to maintain, we fall into depression, despair, until finally we have to accept that we’ve done everything we can. We let go. We let go and move into acceptance.

Meredith Grey, Greys Anatomy (via kari-shma)

saya di… despair? udah empat bulan padahal.

Comments (View)

line
Posted 1 month ago on October 5 2009


Permalink
kakawkadhan:
Ledakan balon gas yang membuat sebagian model-model iklan ini terluka cukup parah. I mean, look at the picture! Perfectly timed! Ga keliatan ya ternyata ini yang membuat mereka terkena luka bakar yang parah. 
superbly scary. liat cewe yang mental di bawah. sangat-sangat menyeramkan. but anyway, yang motret boleh tuh dapet award.

kakawkadhan:

Ledakan balon gas yang membuat sebagian model-model iklan ini terluka cukup parah. I mean, look at the picture! Perfectly timed! Ga keliatan ya ternyata ini yang membuat mereka terkena luka bakar yang parah. 

superbly scary. liat cewe yang mental di bawah. sangat-sangat menyeramkan. but anyway, yang motret boleh tuh dapet award.

Comments (View)

line
Posted 1 month ago on October 2 2009


Permalink
tatazkiaan:

beeforbunga:

9gag:
Our connected world…


this is like… awesome.
Comments (View)

line
Posted 1 month ago on September 30 2009


Permalink

aku bermimpi akan menara tinggi,

aku bermimpi akan menara tinggi,

dan mentari menari-nari,

dan mentari menari-nari,

bangunan kosong terlewati,

bangunan kosong terlewati,

gedung tua tapi berani,

gedung tua tapi berani,

dan jalan ramai dimataku yang sepi.

dan jalan ramai dimataku yang sepi.

aku bermimpi akan merah.

merah dan orang-orang berjalan lalu lalang.

berjalan lalu-lalang dijilati mentari.

dan aku tetap sepi.

tetap,

sepi.

-

holgalau 29/9/09 - fuji velvia 100 crossprocessed - no filter

Comments (View)

line
Posted 1 month ago on September 28 2009


Permalink
…

Comments (View)

line
Posted 1 month ago on September 26 2009


Permalink

ma terre.

ribuan bintang terang berderetan,

memandu mata yang arahnya entah kemana.

bulan menyoroti; langkah-langkah kaki

yang tak kenal lelah menjejak

tanahku, bumiku.

dan rumput basah tertimpa percik hujan, harum baunya.

harum baunya; mengingatkanku.

agar jangan pernah lagi terbang. jangan pernah terbang.

karena sakit lukaku, darah berhamburan

ketika aku jatuh

tak bisa meraih langit lagi.

begitu jauh, begitu jauh.

tetaplah menapak 

tanahku, bumiku.

karena

aku takut terbang.

Comments (View)

line
Posted 1 month ago on September 23 2009


Permalink

The Prayer

theladybug:

Tolong, Tuhan.

Saya tak pernah bisa berhenti merasa iri.

Merasa tak puas, merasa apa yang ada di dalam diri ini bukanlah sesuatu yang hebat.

Merasa apa yang telah saya miliki dan dapatkan ini sesungguhnya telahlah cukup.

Tuhan,

Saya selalu melatih diri saya sendiri. Kala saya merasa serba kekurangan karena melihat orang lain yang serba berkecukupan bahkan serba kelebihan, saya selalu bercermin dan melihat apa yang saya miliki dan mereka tidak.

Apa yang sangat sulit mereka dapatkan tapi saya dengan mudahnya bisa menggenggamnya di tangan.

Sejurus kemudian saya membaik. Saya menegakkan dagu dan menatap tajam diri saya dalam cermin, “Saya tak apa-apa. Saya beruntung. Saya tak perlu hal-hal yang tidak saya butuhkan.”

Kemudian saya berjalan tegap dan gagah. Berdiri kokoh dan tak membiarkan apapun meniup saya jatuh. Ya, saya bisa, Tuhan. Hambamu ini kuat ketika telah mensyukuri nikmat apa yang telah Kau berikan padanya.

Tapi kemudian rasa itu datang lagi.

Rasa itu seolah mencemooh diri saya dan membuat saya merasa menjadi sekecil atom.

Apa yang sesungguhnya diri ini bawa? Apa yang diri ini banggakan? Apa yang membuat diri ini istimewa dan berbeda? Apa yang sesungguhnya membuat diri ini tegak dan percaya? Apa yang sesungguhnya membuat diri ini tegar dan tabah?

Saya jatuh kembali.

Merasa diri ini kosong dan hampa. Tapi hati yang berat dan menyesakkan, dan juga beban yang menyakiti nurani.

Saya kenapa, Tuhan?

Saya ingin bebas dari segala rasa tak berkecukupan. Saya ingin bangga dengan apa yang saya miliki tanpa melihat apa yang dimiliki orang lain yang sesungguhnya saya tak perlukan, hanya untuk faktor kebanggaan dan kesenangan dunia semata saja, dengan tatapan penuh rasa ingin.

Berat, Tuhan.

Saya enggan lagi merasakan iri. Iri. Iri. Iri! Saya lelah dengan segala resiko yang harus ditanggung bila telah berurusan dengan satu sifat negatif itu. Saya muak! Saya telah merasakan apa jadinya jika seseorang dikuasai rasa iri dan cemburu yang membuncah. Itu merusak hati, Tuhan. Membusukkan perasaan. Membuat segala indera jadi pasif dan seolah perlahan mati. Hanya karena iri. Iri. Iri.

Mengeja katanya saja membuat saya bergidik. Serasa tabu sekali jika saya berucap, “Saya iri pada…”, pada hal-hal yang sebenarnya tidak saya butuhkan, tapi saya menginginkannya.

Tuhan, segalanya begitu rumit.

Tahukah Kau, Tuhan, begitu ingin saya menjerit dan menumpahkan segala rasa sakit ini. Begitu ingin hamba mengadu. Begitu rindu saya akan rasa damai dan tenteram yang mendinginkan jiwa penuh duka dan pilu. Kenapa saya tak bisa merasakan itu kala saat-saat seperti ini, Tuhan?

Saya manusia egois. Saya benci! Saya marah dengan apa yang saya rasakan. Saya lelah dengan segala keluh-kesah yang batin ini lontarkan dan pertanyaan-pertanyaan penuh penyesalan yang diawali dengan kata ‘kenapa’. Tuhan, saya benciii sekali! Saya benci diri saya yang seperti ini.

Ketika bercermin saya bahkan merasa semakin sedih lagi. Lihatlah diri saya ini, Tuhan. Begitu kecil, kotor, membawa sekian banyak dosa dan berusaha memapah berjuta perlakuan baik untuk menandinginya.

Beri saya cahaya lagi, Tuhan. Cara lain untuk mengobati penyakit yang tak kunjung sembuh total ini.

Sembuhkan saya.

Sembuhkan saya.

Sembuhkan saya.

:’-(

…bahkan untuk merangkai kata demi menyampaikan asa hati ini saya tak sanggup melakukannya dengan baik…

Sri Izzati, be proud of yourself because:

- You have a loving boyfriend.

- You are a prominent writer of some novels that still landed on my bookself safely.

- You currently study at the school that I’ve been dreaming of since a long time ago.

- And even when we share the same envious mind, at least you can pray to your God eloquently.

And I’m not a big fan of reblogging, but this is very, very same with what I’m currently feeling right now.

Thank you so much for helping me expressing it…

Comments (View)

Powered by tumblr. Theme by Scott. Download this theme.