Plurk.com

line
Posted 2 months ago on September 28 2009


Permalink
…

Comments (View)

line
Posted 2 months ago on September 26 2009


Permalink

ma terre.

ribuan bintang terang berderetan,

memandu mata yang arahnya entah kemana.

bulan menyoroti; langkah-langkah kaki

yang tak kenal lelah menjejak

tanahku, bumiku.

dan rumput basah tertimpa percik hujan, harum baunya.

harum baunya; mengingatkanku.

agar jangan pernah lagi terbang. jangan pernah terbang.

karena sakit lukaku, darah berhamburan

ketika aku jatuh

tak bisa meraih langit lagi.

begitu jauh, begitu jauh.

tetaplah menapak 

tanahku, bumiku.

karena

aku takut terbang.

Comments (View)

line
Posted 2 months ago on September 23 2009


Permalink

The Prayer

theladybug:

Tolong, Tuhan.

Saya tak pernah bisa berhenti merasa iri.

Merasa tak puas, merasa apa yang ada di dalam diri ini bukanlah sesuatu yang hebat.

Merasa apa yang telah saya miliki dan dapatkan ini sesungguhnya telahlah cukup.

Tuhan,

Saya selalu melatih diri saya sendiri. Kala saya merasa serba kekurangan karena melihat orang lain yang serba berkecukupan bahkan serba kelebihan, saya selalu bercermin dan melihat apa yang saya miliki dan mereka tidak.

Apa yang sangat sulit mereka dapatkan tapi saya dengan mudahnya bisa menggenggamnya di tangan.

Sejurus kemudian saya membaik. Saya menegakkan dagu dan menatap tajam diri saya dalam cermin, “Saya tak apa-apa. Saya beruntung. Saya tak perlu hal-hal yang tidak saya butuhkan.”

Kemudian saya berjalan tegap dan gagah. Berdiri kokoh dan tak membiarkan apapun meniup saya jatuh. Ya, saya bisa, Tuhan. Hambamu ini kuat ketika telah mensyukuri nikmat apa yang telah Kau berikan padanya.

Tapi kemudian rasa itu datang lagi.

Rasa itu seolah mencemooh diri saya dan membuat saya merasa menjadi sekecil atom.

Apa yang sesungguhnya diri ini bawa? Apa yang diri ini banggakan? Apa yang membuat diri ini istimewa dan berbeda? Apa yang sesungguhnya membuat diri ini tegak dan percaya? Apa yang sesungguhnya membuat diri ini tegar dan tabah?

Saya jatuh kembali.

Merasa diri ini kosong dan hampa. Tapi hati yang berat dan menyesakkan, dan juga beban yang menyakiti nurani.

Saya kenapa, Tuhan?

Saya ingin bebas dari segala rasa tak berkecukupan. Saya ingin bangga dengan apa yang saya miliki tanpa melihat apa yang dimiliki orang lain yang sesungguhnya saya tak perlukan, hanya untuk faktor kebanggaan dan kesenangan dunia semata saja, dengan tatapan penuh rasa ingin.

Berat, Tuhan.

Saya enggan lagi merasakan iri. Iri. Iri. Iri! Saya lelah dengan segala resiko yang harus ditanggung bila telah berurusan dengan satu sifat negatif itu. Saya muak! Saya telah merasakan apa jadinya jika seseorang dikuasai rasa iri dan cemburu yang membuncah. Itu merusak hati, Tuhan. Membusukkan perasaan. Membuat segala indera jadi pasif dan seolah perlahan mati. Hanya karena iri. Iri. Iri.

Mengeja katanya saja membuat saya bergidik. Serasa tabu sekali jika saya berucap, “Saya iri pada…”, pada hal-hal yang sebenarnya tidak saya butuhkan, tapi saya menginginkannya.

Tuhan, segalanya begitu rumit.

Tahukah Kau, Tuhan, begitu ingin saya menjerit dan menumpahkan segala rasa sakit ini. Begitu ingin hamba mengadu. Begitu rindu saya akan rasa damai dan tenteram yang mendinginkan jiwa penuh duka dan pilu. Kenapa saya tak bisa merasakan itu kala saat-saat seperti ini, Tuhan?

Saya manusia egois. Saya benci! Saya marah dengan apa yang saya rasakan. Saya lelah dengan segala keluh-kesah yang batin ini lontarkan dan pertanyaan-pertanyaan penuh penyesalan yang diawali dengan kata ‘kenapa’. Tuhan, saya benciii sekali! Saya benci diri saya yang seperti ini.

Ketika bercermin saya bahkan merasa semakin sedih lagi. Lihatlah diri saya ini, Tuhan. Begitu kecil, kotor, membawa sekian banyak dosa dan berusaha memapah berjuta perlakuan baik untuk menandinginya.

Beri saya cahaya lagi, Tuhan. Cara lain untuk mengobati penyakit yang tak kunjung sembuh total ini.

Sembuhkan saya.

Sembuhkan saya.

Sembuhkan saya.

:’-(

…bahkan untuk merangkai kata demi menyampaikan asa hati ini saya tak sanggup melakukannya dengan baik…

Sri Izzati, be proud of yourself because:

- You have a loving boyfriend.

- You are a prominent writer of some novels that still landed on my bookself safely.

- You currently study at the school that I’ve been dreaming of since a long time ago.

- And even when we share the same envious mind, at least you can pray to your God eloquently.

And I’m not a big fan of reblogging, but this is very, very same with what I’m currently feeling right now.

Thank you so much for helping me expressing it…

Comments (View)

line
Posted 2 months ago on September 20 2009


Permalink

Pulang-Pergi.

Kakiku sudah lelah menginjak rem-gas-kopling-gas-rem berkali-kali dalam satu hari ini. Satu hari dimana mentari tidak malu-malu bersinar hingga keringatku berbinar-binar. Jalanan mengular, liuk-meliuk berderet kendaraan yang sesak dengan asap knalpot menghitam. Aku terus menginjak rem-gas-kopling-gas-rem hingga kakiku hampir tak terasa ada dalam sepatunya.

Asap menghitamkan langit dan lampu-lampu mulai menyala pedihkan mata. Terus kutekan rem-gas-kopling-rem-gas hingga aku tak punya nyawa. Semua orang gaduh, terus mengaduh. Aku ingin tersenyum tapi tak bisa, hatiku miris terkena luka dikucuri cuka.

“Pak, kapan kita sampai?”

Aku mengeluarkan senyum yang tak tampak seperti senyum, hanya deret gigi kuningku menonjol seperti pagar berkarat. Menjawabpun aku sudah malas, jari saja kutelunjukkan pada barisan lampu seperti kunang-kunang.

“Masih lama.”

Mereka semua tak tambah diam dan semakin gaduh adanya. Aku ingin marah dan menekan klaksonku, menambah kegaduhan jalan. Tapi aku masih tersenyum dan mengingat, hey kawan, ada Tuhan. Kamu mulia. Tugasmu menekan rem-gas-kopling-gas-rem ini sungguhlah mulia.

Akhirnya aku berhenti ketika langit berwarna merah muda. Puluhan orang keluar, berserakan di jalan-jalan berdebu. Aku melihat tas-tas rombeng, ayam-ayam bekisar andalan, kaleng-kaleng kerupuk, bahkan buntalan kumal semua tumpah tak beraturan. Tetapi semua kekacauan dan debu di udara rasanya tak punya harga seketika. Butir-butir airmata bahagia membasahi puluhan pasang mata. Bibir-bibir basah yang terciprati teh saat sahur saling sahut-sahutan. Tangan-tangan bersilangan, tubuh bersinggungan, hati bertautan, manusia berpelukan.

“Alhamdulillah, sudah sampai. Terima kasih, pak.”

Seorang anak menyalamiku penuh rasa bahagia.

Aku tersenyum betul. Menikmati setiap detik yang serasa melayang-layang.

“Adik manis… Cita-citamu jadi apa nak?”

Layaknya bapaknya aku bertanya. Tak ada maksud apa-apa. Spontan saja.

“Jadi pilot!”

Jawabannya bersemangat, matanya berbinar bahagia. Matahari menyembul masuk, tidak panas. Hanya hangat membelai kulit yang kesepian. Aku tak ingin merusak kebahagiaannya, tetapi aku malah tersenyum getir.

“Jangan.”

Ia kaget, diam tidak menangis. Aku tak merasa dosa. Aku memberitahunya fakta yang suatu saat nanti akan ia mengerti sendiri.

“Kenapa?”

“WAH ADIK SUDAH BESAR, NENEK KANGEN SEKALI NAK!”

Anak itu berbalik muka, dan tertawa lebar bahagia. Wanita keriput itu memeluknya erat sekali seakan ia hampir tercekik. Tanpa perpisahan, aku memberinya sebuah kenapa yang akan menggantung sampai ia tahu jawabnya, suatu saat nanti.

Saya bermimpi tentang ini. Langit yang biasanya biru dengan gumpal-gumpal awan. Bandara-bandara terbaik yang supercanggih dan tak pernah tidur. Orang-orang yang terus bergerak. Ada sesuatu dari pesawat terbang yang telah memesona saya sehingga saya begitu terpikat padanya.

Baru sebentar saya dilantik resmi menjadi pilot Elang Air. Belum terlalu mapan jam kerja yang saya punya. Tapi hari ini saya merasakan ada sesuatu yang ganjil mengganjal hati saya.

Dengan koper-koper mewah, kacamata bagus, dan rambut bersasak tinggi, bangsawan kota ini hendak kembali ke kampung mereka. Membawa kabar gembira. Membawa setumpuk uang dua ribu rupiah baru untuk dibagikan pada tetangga. Anak-anak mereka gemuk dan malas bergerak, tangannya menenteng benda-benda asing yang aku tak suka. Darah kedaerahan saya bergolak melihat orang-orang kaya ini lupa pada kulitnya, kota-kota asal mereka. Tetapi tugas saya disini untuk membawa mereka kembali menjejak tanah setelah mencakar langit-langit ibukota.

Pantaslah hari ini berbeda. Kota asal mereka, adalah kota asal saya juga.

Saya sungguh tak sabar ingin segera tiba. Menjejak tanah gersang itu, dengan debu-debu bergumpalnya yang khas. Burung besi ini saya terbangkan dengan gagah, memastikan tidak ada yang salah. Saya harus pulang.

Dan ketika bandara kecil itu tampak dari kejauhan, tak ada yang dapat saya lakukan kecuali tersenyum.

Saya mendarat dan ingin segera turun seperti orang-orang kaya itu, yang terlalu perlahan menuruni tangga takut merusak sepatu mahal mereka. Saya ingin segera memeluk anak dan istri saya, serta diciumi di kening oleh kedua orang tua.

Ponsel saya berbunyi:

“Maaf yah, tidak ada yang bisa menjemput ke bandara. Kami semua tunggu di rumah ya? Ibu sudah masak opor.”

Saya tersenyum dan rasanya ingin segera melepas dasi yang mencekik ini.

Dan tiba-tiba berbunyi lagi:

“Bisa segera kembali ke Jakarta? Salah satu pilot ada yang cuti. Kamu dibutuhkan untuk—”

Saya tak bisa mendengar lagi. Kuping saya kelu sebelah. Mati rasa.

Bayangkan. Tanah yang sama, satu jam saja jaraknya.

Aku tutup saja jendela dan semua pintu ketika seluruh penumpang turun. Seorang petugas terminal menyapaku.

“Wah, bang, apa kabar? Lama sekali tak pulang?”

Aku makin saja tersenyum getir.

“Tak bisa. Banyak penumpangku sudah antre di Kampung Rambutan.”

“Sayang sekali ya. Anak istri pasti rindu.”

Sudah pasti.

Dan saya kembali terbang melintasi awan, menjauh dari kepulan opor ayam yang gurih dan ketupat yang lembut. Tiba-tiba terngiang suatu kata di telinga saya yang terkena tekanan.

“Jangan.”

Kau tak akan bisa pulang.

Comments (View)

line
Posted 2 months ago on September 18 2009


Permalink

a secret.

here i tell you one big secret:
just forgive.

forgive yourself for being imperfect,
so you can transform into a new you.

forgive yourself for doing not good enough in the past,
so you can do much better in the future.

forgive everyone,
and you shall be forgiven too.

and real forgiveness,
leads to real happiness.

and real happiness,
is the answer for all the question we have in our short life.

Comments (View)

line
Posted 2 months ago on September 15 2009


Permalink

ada ga sih orang lain yang duduk di posisi gue saat ini?

ada ga sih orang yang pengen jadi gue?

soalnya gue pengen banget jadi orang lain.

merci, au revoir.

Comments (View)

line
Posted 2 months ago on September 10 2009


Permalink
Comments (View)

Powered by tumblr. Theme by Scott. Download this theme.