Hanya beberapa hal yang patut disyukuri:

Terima kasih, Tuhan. Dengan cara apapun kau disebut dan disembah.

Atas segala izinMu, pada minggu yang telah berlalu kemarin, betapa banyak kenikmatan dan keindahan yang telah engkau berikan pada hamba.

Terima kasih, Tuhan. Kau tidak hanya membuat mimpi hamba menjadi nyata, tapi Kau juga membuatnya begitu mudah. Terima kasih atas kelancaran pada proses visa hamba. Terima kasih atas teman-teman yang kelihatannya sangat menarik untuk dikenali lebih jauh. Terima kasih atas paspor dinas biru, bukan paspor biasa warna hijau, yang akan hamba gunakan untuk pergi kesana. Terlebih lagi, terima kasih karena telah memilih hamba, seorang anak yang jauh dari kata luar biasa, untuk mengikuti perjalanan ini. Perjalanan untuk mengicipi dan merasakan mimpi-mimpi hamba. Terima kasih.

Mungkin perjalanan ini akan berlangsung tidak semulus yang dibayangkan, tapi hamba akan berusaha, untuk mensyukuri segala sesuatunya. Menikmati yang sangat lebih dari cukup.

Terima kasih pula, Tuhan, atas teman-teman dan sahabat hamba. Jika hamba hitung, lebih dari belasan orang di dunia ini bisa hamba panggil sebagai sahabat. Jumlah yang luar biasa, mengingat jutaan orang di luar sana bahkan kesulitan memiliki satu saja. Terima kasih, telah menghadirkan mereka untuk berbagi, baik senang maupun sedih. Terima kasih telah membuat hidup hamba begitu berwarna dengan segala perbedaan mereka yang kadang begitu nyata. Terima kasih, karena hamba bisa juga merasakan pertentangan dan perbedaan dengan mereka, sehingga hamba bisa menyadari, betapa kehilangan satu saja sahabat dalam periode yang singkat terasa lebih sulit dari apapun. (Yes, I’m looking at you, neng :p)

Terima kasih karena dalam hari-hari kebelakang, hamba dapat berbagi banyak hal dengan orang lain. Mengenal orang-orang baru. Melihat kepribadian mereka. Menyelami apa yang mereka takutkan, dan berusaha membantu mereka untuk menjadi lebih baik. Sepertinya, telah kau berikan gairah hidup dalam darah hamba, untuk terus dan terus membantu orang lain. Menginspirasi serta memotivasi mereka untuk terus maju. Semoga, kesempatan ini dapat terus terbuka, bahkan makin terbuka lebar, agar apa yang hamba miliki bisa bermakna bagi dunia.

Terima kasih banyak atas berkah yang Kau berikan pada keluarga hamba. Sabtu ini, kakak hamba yang sangat hamba sayangi akan menerima toga wisudanya, siap menjalani kehidupan keras sebagai seorang dewasa. Terima kasih atas segala kemudahan dan kelancaran yang kau berikan padanya selama ini. Semoga, di masa depan, ia akan terus mengingatMu dan bersyukur padaMu, seperti selama ini kau selalu mengingatnya.

Terakhir, kedua orang tua hamba.

Manusia mana yang tidak ingin meneteskan air mata ketika mengingat orang tuanya? Hampir tidak ada. Mereka, orang-orang yang paling sering hamba sakiti dengan perbuatan dan perkataan hamba, adalah orang-orang yang paling menyayangi hamba dengan setulus hati mereka. Semua senyum, kata, dan perhatian yang tercurah tanpa henti, selalu mengikuti hari-hari hamba. Doa-doa merekalah yang mengantar hamba sampai ke titik ini, Tuhan. Kasih sayang merekalah yang membuat hamba kuat menghadapi apapun. Dan tentunya, kebesaran hati mereka karena mau menerima hamba apa adanya, adalah nikmat terbesar yang bisa Engkau karuniakan pada hamba.

Betapa inginnya hamba, melalui doa-doa yang sederhana, membangunkan mereka istana yang indah di Surga. Kasihilah mereka, Tuhan, melebihi segala kasih yang selalu mereka curahkan. Mudahkan dan luruskan jalan mereka, panjangkanlah usia mereka, lancarkanlah rezeki mereka, dan indahkanlah hidup mereka pada saatnya. Cintailah mereka, Tuhan, melebihi cinta apapun yang ada di muka bumi ini. Peluklah mereka, hangat. Selalu. Sampai harinya tiba, serta setelahnya. Selamanya.

—-

Mengingat betapa kejamnya dunia membuat hamba berpikir pahit. Hari ini, berita buruk menimpa dunia berturut-turut. Seorang pembalap jenius meninggal, sebuah negeri indah goyah dihantam bencana. Bahkan dalam skala mikro sekalipun: seorang kakak kelas yang hidupnya pernah bersinggungan dengan saya, meninggalkan kita semua hari ini. Terlebih lagi, kemarin, saya baru saja melihat video yang paling memilukan dalam hidup saya: seorang anak kecil tak berdosa, ditabrak oleh truk. Truk tersebut mundur, ragu. Lalu akhirnya menggilas kepala anak kecil itu. Belasan orang yang melewati anak berdarah-darah itu, hanya melihat, tanpa melakukan apa-apa. Lalu truk kedua datang, dan hal tersebut terulang lagi. Sedih. Perih. Miris.

Dunia memang penuh dengan ketidakadilan, saya tahu. Tapi kadang saya bertanya pada diri sendiri, mengapa saya yang mendapatkan semua kenikmatan luar biasa ini? Mengapa bukan orang lain? Bukan, saya bukan tidak suka. Jelas semua ini tak terkira indahnya. Tapi mengapa di satu sisi, ada orang-orang yang menderita, dan banyak orang yang bersuka cita?

Saya tidak pernah menemukan jawabannya.

Maka dari itu, Tuhan, izinkan saya, untuk suatu saat nanti mengubah hal itu. Semua rezeki yang kau limpahkan ini, tentu bukan hanya milik hamba seorang. Rezeki materi yang hamba punya, harus diberikan dan dibagikan. Rezeki ilmu yang hamba punya, harus mengalir terus ke orang lain. Segala kenikmatan ini, yang pasti, harus selalu disyukuri. Mereka tidak perlu diperlihatkan untuk membuat orang lain iri, mereka perlu diperlihatkan agar orang-orang masih mengingat satu hal: bahwa hal-hal baik akan datang, jika kita percaya. Jika kita mau mempercayai mimpi-mimpi kita, dan berharap yang terbaik agar mereka jadi nyata. Jika kita mau mempercayai bahwa kita tidak tinggal sendiri di muka bumi ini, dan kita harus selalu membantu selama kita mampu.

Hamba percaya, semua hal indah ini, adalah ujian bagi hamba. Apakah hamba bisa bersyukur dibuatnya?

Jika iya, maka ujian itu akan bertambah, dengan berlipat gandanya nikmat. Sampai suatu titik dimana mereka begitu berlimpah hingga hamba lupa padaMu, yang membuat mereka semua ada. Dan ketika itulah kau akan memberikan ujian berupa cobaan dan kesulitan, agar hamba mengingatmu lagi.

Hamba tak mau itu terjadi.

Mari bersyukur.

Selamat hari Senin pagi. Mari mulai hari ini dengan sebuah senyuman.

  1. cupulado reblogged this from iyo
  2. iyo posted this