Ganti Casing.

Label, label, dan label. Seumur hidup, kita semua akan selalu ditempeli label yang bermacam-macam bunyinya. Ketika itu positif, mungkin kita akan menjadi besar kepala dan menjaga label itu untuk tak lepas dari diri kita, selamanya. Tetapi ketika negatif, berapa banyak diantara kita yang marah dibuatnya? Berapa banyak diantara kita yang berusaha mati-matian menjauhkan cap itu dari diri kita?

Bagi saya, saat ini adalah saat yang paling tepat untuk membuat label-label kita sendiri, lalu menempelkannya di kening kita dengan begitu bangga. Jati diri rupanya bukan untuk dicari, melainkan dibuat. Saya menyadari penuh bahwa diri saya sendirilah yang menentukan, ingin jadi apa saya di masa depan? Pilihan-pilihan apa yang ingin saya ambil? Atau, mengutip buku 7 Habits, ketika nanti saya meninggal dunia… Saya ingin dikenang sebagai sebuah sosok yang seperti apa?

Berkah besar yang saya dapatkan akhir-akhir ini, membuat saya mantap untuk memilih satu label dan mengenakannya dengan bangga. Saya ingin menjadi orang yang bisa bertemu banyak jiwa-jiwa manusia, dan mengubah hidup mereka menjadi sedikit lebih baik. Saya ingin menjadi orang yang pernah menggoreskan senyuman di wajah orang lain, entah sekali atau seringkali. Saya ingin bahwa keberadaan saya menjadi manfaat bagi orang-orang di sekeliling saya. Tapi kadang saya berpikir, siapa yang tidak ingin menjadi orang yang seperti itu?

Lalu saya masuk lebih dalam lagi dalam lamunan, berusaha membentangkan sebuah cerminan dari perilaku saya sehari-hari. Saya berusaha mencari: manakah saya yang sesungguhnya? Apakah Iyo si manusia kreatif dan meletup-letup oleh ide? Iyo si raja gosip dan juara satu lomba sarkastis? Iyo yang hatinya lembut dan mudah galau? Atau Iyo yang pikiran-pikirannya selangkah lebih maju dan dewasa?

Saya menemukan jawabannya ketika saya membaca sebuah forum tentang orang-orang yang memiliki tipe kepribadian ENFP. Apakah lengkapnya ENFP itu, tidak cukup dijabarkan dalam satu tulisan ini, yang pasti disana disebutkan, bahwa manusia dengan tipe ini tidak memiliki kepribadian yang tetap.

Saya kaget. Maksudnya apa?

Rupanya, kami adalah peniru bunglon nomer satu di dunia. Kami tidak bermasalah, untuk mengubah gaya bicara, pandangan hidup, hingga cara berperilaku; sesuai dengan tempat dimana kami berada saat itu. Luar biasa bukan? Rupanya jati diri saya bukan cuma satu, melainkan banyak!

Ketika pagi-pagi saya bertemu dengan teman-teman kelas, kadang keluarlah mode “Aing” dengan sapaan-sapaan kasar dan gurauan yang lebih umum. Hal ini berganti ketika saya bertemu dengan teman-teman “Gue” yang kadang gaya bahasa serta sumber humornya sedikit lebih internal. Pulang kerumah, saya akan menjadi si “Aku” yang banyak bicara dan menghangatkan suasana rumah. Dan kadang, jika saya berada di depan laptop seperti ini, atau sedang berada dalam sebuah lamunan serius dibawah gemericik air pancuran mandi, saya alan menjadi “Saya” yang kontemplatif dan penuh renungan.

Jadi, Iyo yang sebenarnya, yang mana? Semuanya! Saya tidak pernah berpura-pura, atau memalsukan sesuatu. Saya tidak menjilat demi mendapat teman. Sudah merupakan sifat alamiah saya untuk membaur, demi mendapatkan sesuatu yang lebih. Demi belajar hal-hal yang baru. Demi menyentuh hidup orang lain, dan mengubahnya menjadi lebih baik. Kepribadian saya juga tidak ganda! Apa yang tampak di luar, tidak akan mengubah apa yang ada di dalam. Iyo akan selalu tetap sama, seperti apapun tampilan yang Ia tunjukkan sebagai cangkangnya.

Dulu, jauh sebelum Twitter dan Facebook menjadi terkenal, saya pernah mengubah About me di akun Friendster saya dengan kalimat berikut ini: More than meets the eye. Dulu sih, alasannya, karena sedang demam film Transformers! Tapi rupanya, lima tahun kemudian, that sentence makes sense. Kalian tidak akan pernah bisa menilai saya dari sampulnya, karena seperti fitur telepon Nokia zaman dahulu kala: I came with an interchangeable covers.

Happy holidays, all!

  1. eddie-bailey reblogged this from iyo
  2. iyo posted this