Bit(e)s and Pieces from 2011 - Part 1.

Saat ini, orang-orang sudah mulai sibuk merangkum kaleidoskop kejadian tahun lalu. Kali ini, saya akan melakukannya dengan sedikit berbeda! Saya akan mengingat makanan-makanan bersejarah yang pernah saya makan sepanjang tahun ini, dengan kejadian-kejadian yang menyertai mereka. Berikut adalah bagian pertamanya. Tulisan ini cukup panjang, dan kebanyakan bersifat pribadi. Semoga kalian masih bisa menikmati.

Selamat membaca, selamat menjadi lapar!

—-

Ubud, Bali.
Januari 2011.

Eggs Benedict, Bali Buddha. Makanan pertama saya di usia 17 tahun. Saya bangun pagi, meditasi sebentar, menikmati matahari yang perlahan menyapu lantai sawah yang berhias padi. Saya kenakan sepatu lari saya, dan saya berjalan mengelilingi Ubud. Bernafas. Sampai akhirnya terdampar di sebuah sanctuary rahasia ini, dengan Eggs Benedict dan Carrot Cake yang luar biasa. It was blissful.

Nasi Campur, Warung Enak. Kelewat enak. Daging empuk semacam rendang. Sate lilit ikan yang lembut dan gurih. Oh, sayur urapnya, wow. Yummy. Mungkin makanan Indonesia paling enak yang pernah saya makan tahun ini.

Salad Jamur, Siam Sally. Minumnya soda rasa jahe. Hujan. Seorang sahabat memberi saya hadiah ulangtahun, sebuah video singkat. Tertawa, hampir menangis. Makan lagi. Menikmati hujan di pulau seribu dewa ini.

Rib Eye Steak, Cinta Grill. Klimaks dari segala klimaks; the birthday dinner. Tiba di restoran dengan disambut A Beautiful Mess oleh Jason Mraz. Saya makan diliputi rasa terharu. Daging, daging, dan daging. Saya suka daging.

Omelette dan Roti Bakar, Clear Cafe. Tekstur dan isiannya luar biasa. Rotinya gurih manis dengan selai stroberi dan jeruk yang rasanya pas. Jangan lupa, nasi goreng udangnya juga nikmat luar biasa. Saya selalu ingin kembali. Cinta pada suapan pertama.

Hummingbird cafe, Bandung.
Januari 2011.

Crispy chicken sesame sauce. Hummingbird Pastiso. Hamburg Steak. Profiteroles. Blueberry Cheesecake.

Walau sudah terjadi berhari-hari lalu, Jum’at malam itu, saya ingin merayakan sedikit tujuh belas tahun dalam kehidupan ini. Saya mengenakan setelan terbaik saya saat itu: jeans putih polos, kemeja hijau mint polos, dan dasi kupu-kupu polkadot hitam putih. Tamu yang pertama datang adalah Amalina Ghassani. Kekhawatiran memuncak karena waktu yang berbentrokan dengan acara final liga basket paling prestis antar SMA. Keringat dingin mengucur. Hingga akhirnya, satu demi satu teman hadir bersamaan, dengan baju-baju mereka yang berwarna pastel itu.

Kami tertawa, mengambil beberapa foto. Saya sibuk melompati satu meja ke yang lainnya, seolah jadi pemilik rumah sendiri. Sebuah dinding putih dihiasi puluhan lembar post-it yang berisi doa dan harapan dari semua kawan. Faridz dan Tika menjadi pasangan terakhir yang meninggalkan tempat itu bersama saya. Sepulang dari sana, kertas-kertas kado mulai dibuka. Belasan buku bagus dan hadiah penuh makna menanti saya. Sebuah papan putih yang harus ditulisi mimpi diantaranya. Saya menggantung papan itu dan siapa sangka, hampir semua yang tertulis diatasnya bisa jadi nyata?

Malam itu, saya tidak sempat makan banyak. Hanya sepotong Hamburg Steak yang kaya rasa, itupun tak sempat saya menghabiskan semuanya. Tapi, jiwa saya kenyang. Penuh dengan cinta.

Kantin Sumbawa, Bandung.
Februari 2011.

Paket I: I fu mie dan Es Jeruk.

Saya hafal persis rasa Ifumie dan segar jeruknya. Dua makanan ini menemani saya di hari-hari rapat tanpa henti, bicara tanpa lelah, dan berfikir hingga seluruh tenaga habis. Semua demi satu acara. Syukurlah, tetes keringat itu tidak ada yang berujung sia-sia. Rasa makanan ini sampai detik ini, masih melekat di lidah saya. Cap-cay panas yang menyirami mie kering, penuh MSG. Rasa Es Jeruk yang berada tepat ditengah-tengah rasa jeruk asli dan jeruk artifisial. Saya rindu tempat ini.

Wisma Subud, Jakarta
Februari 2011.

Sate ayam dan keripik teri kacang kentang. Teh susu Sariwangi.

Mulas setengah mati di tol JORR. Tidak ingin menemui rekan-rekan sesama debater yang lain, karena sudah dicap buruk bahkan sebelum berperang. Menandai kamar yang paling nyaman, dan akhirnya menempati kamar itu dengan Nudzran Yusya dan M. Iqbal. Disiksa tiap malam, tapi perut selalu diisi penuh tiap pagi dan sore. Sate Ayam dan keripik kentang tidak pernah terasa senikmat ini sebelumnya. Teh sariwangi yang dicampur susu kental manis Frisian Flag menjadi peneman berhar-hari. Momen-momen ini adalah momen menentukan. Seleksi tahap akhir menuju Team Indonesia.

Red Bean, Pondok Indah Mall 1, Jakarta.
Februari 2011.

Ayam Kungpaw, Ikan Steam.

Setelah menyaksikan The King’s Speech yang mengharukan itu, kedelapan peserta seleksi bergegas mencari makan. Hari itu adalah hari terakhir seleksi, hari terpenting karena akan diadakannya pengumuman. Semua orang tampak tidak bernafsu…. Kecuali saya. Setelah semua piring-piring habis tak tersisa, kami berpegangan tangan. Satu persatu hasil dibacakan. Nama saya… Tercantum dalam keempat nama yang beruntung itu. Saya akan berangkat ke Skotlandia.

Pancious, Pondok Indah Mall 2, Jakarta.
Februari 2011.

Spaghetti Duck and Chilli.

Keesokan harinya kami mengadakan informal lunch, berenam. Keempat peserta, dua pelatih. Sebuah restoran terkenal dipilih. Kami berbincang tentang rencana-rencana kedepan, sebagian yang mungkin hanya sampai pada tahap perbincangan. Kami tak peduli, bagi kami, semua itu sangat berarti.

Haagen-Dazs, Pondok Indah Mall 2, Jakarta.
Februari 2011.

Macademia Nut Brittle dan Rum-Raisin with Caramel.

Deta, salah satu sahabat saya dari Team Indonesia, adalah satu-satunya orang yang wajib bertanggung jawab atas adiksi Haagen-Dazs saya ini. Setelah mencicipi rum raisin yang menyegarkan dan manisnya sungguh pas, atau Macademia Brittle yang sangat lembut dan creamy, sungguh rasanya es krim lain tidak akan ada yang bisa menandingi. Segelas air dengan sedikit rasa lemon menjadi penyegar diantara suap-suap es krim dan gosip yang tanpa henti. Hari itu saya mendapat dua hal: es krim favorit baru, dan sahabat-sahabat baru.

RS Borromeus, Bandung.
Maret 2011.

Nasi Goreng Spesial, MM Juice.

Ayah saya mendadak masuk rumah sakit dan harus dioperasi hari itu juga. Alat kelaminnya akan dimasuki alat-alat yang bahkan tak berani saya membayangkannya, karena sebuah penyakit yang entah tak tahu dari mana datangnya. Air mata. Air mata. Air mata. Nasi goreng yang rasanya biasa, dengan harga yang tak tahu malu, mau tidak mau menjadi pengganjal perut saya. Diantara malam-malam tanpa pejaman mata, saya berdoa. Syukurlah kini Ayah saya baik-baik saja.

Dipati Ukur, Bandung.
Maret 2011.

Susu Murni Leci.

Kesederhanaan bisa berubah menjadi keindahan ketika kita menikmatinya bersama orang-orang yang kita sayang. Pertama kali saya meminum susu murni hangat ini, saya sedang bersama sahabat saya Ladzwina. Dan minuman yang rasanya manis-manis “terharu” ini akan selalu mengingatkan saya pada dirinya.

Richeese Factory Paris Van Java, Bandung.
Maret 2011.

Fire Wings level 1.

Semua orang sedang sibuk mempersiapkan stand mereka untuk EXPO5 ketika saya dan dua sahabat saya yang sedang dimabuk cinta berkunjung sebentar ke tempat ini untuk makan dan berbagi cerita. Keduanya menangis, bukan karena sedih, melainkan sayap ayam yang mereka makan kelewat pedas. Saya masih ingat cerita-cerita soal “Angin Malam” yang sukses membuat saya terharu dan saat itu membuat saya ingin sekali punya pasangan. Ah, the good old days… :’)

McDonalds Dago, Bandung.
Maret 2011.

Eggs McMuffin with Sausage.

I was officially in love.

Pomodoro, Bandung.
Maret 2011.

Spaghetti Tuna Aglio Olio

Saya kabur ke tempat rahasia ini bersama curhatmate dan sahabat terbaik saya Laura untuk bercerita soal sesuatu yang sangat besar. Sangat, sangat besar. Tempat sepi itu menjadi saksi dari sebuah pembicaraan yang tidak akan pernah saya lupakan untuk selama-lamanya. Terima kasih, Lora! :D

Treehouse Dago, Bandung.
April 2011.

Sausage with Mashed Potato. Hug Mug Milky Caramel.

Ruth and Deta came to Bandung for a short, sweet, but awesome practice session. Oh, the mashed potato in Treehouse is definitely one of the tastiest mashed potato in Bandung. And the Hug Mug Milky, is a liquid that screams love. As if you’re being hugged tightly. That night, I had a great conversation with Ruth about our first love with debating. It was unforgettable. (Mentang-mentang lagi cerita soal latihan debat langsung jadi Inggris. Hahaha)

Bakerzin, Plaza Senayan, Jakarta.
April 2011.

Salmon Salad, Grilled Chicken, and Rose Macaroons.

The food before Bruno Mars with Alin! Rasa salad Salmonnya susah dilupain karena ada satu scoop kecil raspberry sorbet diatas saladnya yang kalau dimakan sama daging salmon mentah itu bisa sukses bikin orang speechless. The concert went well, dan kita semua menutup malam itu dengan susu panas rasa karamel persembahan kopi berlogo duyung.

Sebuah Kantor di Jalan Sumbawa, Bandung.
April 2011.

Cheeseburger dan Kiwi Sundae, Take Away McD.

Kadang saya kangen sama Kiwi Sundae. Asem manis enak gimana gitu. Tapi sayang, asosiasi saya dengan es krim ini adalah sebuah kantor remang-remang dengan asap rokok yang mengepul terus tanpa henti. Kalimat-kalimat jahat terucap, jari tengah teracung dari balik meja, dan kepercayaan diri orang-orang diaduk-aduk layaknya blender. Sebuah ujian mental yang rasanya tidak tepat jika diasosiasikan dengan secangkir es krim yang rasanya seperti surga.

Kopi Progo, Bandung.
April 2011.

Beef Stroganoff dan Ice Lemon Tea.

Kalau ada award “Restaurant of The Year” sepertinya gelar ini layak dijatuhkan bagi Kopi Progo. Tempat ini, dengan Beef Stroganoffnya yang memiliki konsistensi cream dan rasa paprika yang pas serta lemon tea super segar, adalah sumber inspirasi bagi panitia inti FiveLive Archipelago. Belasan kali rapat kecil kami digelar di tempat ini, kadang diselipi gelak tawa atau tangisan. Dengan pelayannya yang sama sekali tidak ramah, kami sepertinya berkali-kali hampir diusir. Syukurlah, berkat keberadaan tempat kecil di jalan Progo inilah, banyak ide-ide gila kami akhirnya terlaksana.

Sepanjang Jalan Dago, Bandung.
April 2011.

Bola-bola cokelat dan Muffin.

O Market. Owl Market. Garage sale sederhana di hari minggu pagi dan ajang penjualan makanan keliling: muffin keju dan cokelat buatan ketua PK SMAN 5, Mahran, serta bola-bola cokelat gendut berisikan kacang atau smarties buatan Gina. Seluruh anak 5 hadir pagi-pagi, semua tampil sporty, berteriak kesana kemari menjual makanan yang sedikit overpriced. Demi acara ini. Demi kejayaan bersama. Saya cinta mereka! Saya juga cinta bola-bola cokelat dan muffin itu.

Fashion Pasta, Bandung.
April 2011.

Grilled Barramundi, Cheese Gnocchi, and Profiteroles.

I SCREWED UP. Kadang di titik-titik tertentu, manusia bisa aja ngaco kan? Pagi itu, sebelum short escape ke Fashion Pasta, ada masalah. I suddenly resigned via BlackBerry Group from my position as the head of funding. Everyone went super mad. Some folks gave me harsh tweets. Saya sih berusaha santai walau dalam hati super galau. Nangis all day long. Ditutup nonton finale Masterchef dan kepikiran ide gila buat makan super mahal, cuma buat ngilangin galau. My brother and I spent more than half a million rupiah for a dinner. Well, it was a perfect cure for a broken heart.


Kantin Fakultas Hukum Universitas Indonesia, Depok.
April 2011.

Sup Ikan.

Kursi-kursi dipenuhi mahasiswa dan mahasiswi cantik. Saya sibuk menyesap kuah sup Ikan bening di kantin pojok kanan FH UI, kuahnya segar untuk cuaca panas Depok yang menyengat. Team Indonesia duduk berempat, membahas tentang ekspektasi kami sebagai team, dan insecurity kami yang begitu besar. Semua orang kecewa, saya berusaha berbesar hati dan berbohong pada diri sendiri. Kami semua sadar, di ALSA UI tahun ini kami mengecewakan.

Asia Afrika, Bandung.
Mei 2011.

Bubur Ayam Pikiran Rakyat.

Hari-hari melelahkan yang bergantian antara memikirkan debat dan mencari uang akhirnya sampai di salah satu ujungnya. Untuk kejadian yang satu ini, saya masih hafal tanggalnya: 5 Mei 2011, dini hari. Saya, Finna, dan Audhina menunggu sambil makan malam bubur dan jeruk panas di pinggir jalan Asia Afrika. Finna menangis karena kehilangan jaket pacarnya. Saya makan bubur dengan hati berdebar-debar, menunggu kepastian, apakah jalan Braga jadi ditutup malam itu?

Setelah selesai makan, kami menyusuri jalan Braga yang mulai sepi, dan menunggu dengan antusias di pinggir jalan Braga, tepatnya di depan gedung New Majestic. Anak-anak mulai berkumpul untuk mempersiapkan pembuatan stand dan dekorasi. Kami hanya menunggu satu hal lagi.

Saat mobil polisi itu tiba dan seorang petugas menaruh pembatas jalan di tengah-tengah jalan Braga, kami berteriak dengan riang gembira. Mimpi kami akan jadi nyata.

Braga, Bandung.
7 Mei 2011.

Soto Betawi dan Buavita 2Go.

Bangun pagi buta di hotel New Naripan. Tidak pernah terpikir untuk sarapan. Venue harus bersih jam 8 pagi sementara pukul 5 pagi, stand kelas masih jauh dari kata rapi. Bambu dan besi bertebaran dimana-mana. Situasi terlihat seperti bencana. Saya berlarian kesana dan kemari seperti orang gila. Ajaibnya, jam 8 pagi, saat semua harapan seolah sudah tidak ada, anak-anak logistik memberikan tanda bahwa venue sudah selesai dibuat. Kemanan 5 melakukan clearing area. Dan, tidak terasa, kedua MC diarak dengan kesenian berbentuk tempat duduk singa.

Saya yang sudah mulai tenang, mulai merasa lapar. Saat berkelana tak ada tujuan, terlihat salah satu stand kelas yang menyajikan soto betawi. Saat saya melihat dompet, saya sangat kaget! Tidak ada selembar rupiah pun yang tersisa disana. Mendadak, muncul seorang teman (yang belakangan menjadi salah satu sahabat terbaik saya, Yudha). Ia mentraktir saya semangkuk soto betawi hangat, satu-satunya makanan yang berhasil masuk ke mulut saya pada hari bersejarah itu.

Sisa hari yang relatif aman saya habiskan dengan ditemani belasan botol Buavita 2Go gratis pemberian sponsor utama kami. Rasa apel, dan kebanyakan dingin. Saya tidak mengeluh sakit tenggorokan sesudahnya, karena bintang utama yang mereka berikan secara gratis, sudah sukses menghibur kami semua di puncak acara.

Bercerita tentang FiveLive Archipelago memang tidak akan ada habisnya.

Salah satu kenangan paling indah yang pernah terjadi dalam hidup saya.

—-

Hari-hari setelah 7 Mei berjalan dengan sangat hampa. Rasanya seperti sebuah jeda yang panjang, dengan distraksi-distraksi kecil disana-sini. Saya mengalami momen-momen idle yang cukup lama, sekitar satu bulan setengah, sampai akhirnya memulai lagi kejadian-kejadian besar setelahnya. Mari lanjut ke bagian dua!

  1. iyo posted this