Bit(e)s and Pieces from 2011 - Part 2.

Bagian dua ini akan diisi oleh hal-hal besar, beberapa bahkan tidak pernah saya bayangkan sebelumnya akan terjadi di tahun ini. Selamat membaca, dan sekali lagi, selamat menjadi lapar!

—-

Sushi Tei, Bandung.
Juni 2011.

Chicken Katsu Curry Rice.

Saya mendadak teringat satu tweet saya di tanggal 8 Mei. “Yesterday, we were busy making history. How about you?” Satu teman baik sekaligus bos saya di acara tersebut me-retweet tulisan tersebut dengan menambahkan komentar seperti ini: “Tomorrow, you’ll be busy making relationship with someone.” Saya hanya tertawa sambil mengamini.

Kurang lebih satu bulan dua puluh hari kemudian, di salah satu meja paling pojok kiri, saya berbincang dengan dia: Deska Susila Putri. Kami berbicara soal banyak hal, mulai dari Doraemon dan kebencian mutual kami terhadap salah satu ras tertentu. Kami tertawa. Dan salah satu topik menjadi trigger pembicaraan kami yang lebih lanjut. Sampai akhirnya saya mengajaknya secara sangat casual untuk menjalani sebuah hubungan dengan tahapan yang lebih lanjut.

Dia setuju. Saya mengantarnya pulang. Salah satu pengalaman pertama saya mengendarai mobil sendiri dengan jarak yang cukup jauh. Sekembali saya dari rumahnya, di depan Museum Geologi, saya menabrak sebuah motor yang sedang berbelok ke kanan.

The universe has spoken. Just kidding.

Laota, Denpasar, Bali.
Juli 2011.

Bubur Pelangi, Cakwe, dan Ronde Kacang.

Belum pernah saya membayangkan sebelumnya, akan pergi ke Bali dan bersenang-senang bersama teman-teman saya. Hal ini terjadi, di awal bulan Juli. Sebagian besar angkatan kami pergi menggunakan bis dan berada di perjalanan selama puluhan jam. Pegal pantat.

Di salah satu Rest Area, (saya akan menceritakan ini secara sangat… gamblang) mantan kekasih dari mantan kekasih saya (yang sekarang menjadi kekasihnya lagi), M. Ibrahim (sebut merek ajaaa!) menagih janji saya untuk membayar apa yang anak-anak sekarang sebut sebagai “Pajak Jadian”. Saya mengiyakan. Dan akhirnya, sehari setelah kami tiba di Bali, saya bersama dia, Mulky. Finna, Sunu, Reva, Alin, Caca, Tika, Faridz, dan Udin pergi menjajah salah satu restoran chinese food favorit di Bali: Laota.

Tempat ini sangat terkenal dengan bubur pelanginya yang berisikan 7 macam jenis lauk pauk, mulai dari telur phitan sampai daging ikan dan udang. Rasanya… Luar biasa. Sangat, sangat luar biasa. Porsinya besar-besar dan terhitung mengenyangkan. Walaupun begitu, bintang utama malam itu adalah cakwenya! Ya Tuhan, saya bertanya-tanya, apa resep rahasia dari cakue-cakue itu? Renyah, garing, gurih, dan berukuran jumbo! Akhirnya kami menambah berporsi-porsi sambil juga diselingi makanan penutup bola-bola kacang berkuah jahe yang biasa disebut ronde. Mmmm.

Good times.

Burger King dan McDonalds, Jimbaran, Bali.
Juli 2011.

Swiss Mushroom Single, dan McNuggets.

Malam setelahnya, kejadian menjadi semakin epic. Awal malam dibuka dengan sebuah perjalanan yang biasa-biasa saja ke Burger King Discovery Kuta yang rupanya sudah sangat sepi. Kami kembali karena hampir semua toko sudah tutup. Dan sekembalinya kami…. Terjadilah drama abad ini yang akan menginspirasi novel saya selanjutnya. Mau tahu seperti apa? Wait until those books hits the shelves somewhere around 2012/2013! Amiin.

Setelah drama penuh ketegangan selesai dan situasi beranjak baik, Yudha yang baru saja selesai merayakan satu tahun bersama kekasihnya kembali ke kamar hotel. Ia sedang dalam mood yang baik, sehingga Ia memutuskan untuk mentraktir saya, Sunu, dan Adityawarman. Kami memutuskan untuk berjalan kaki, jam 3 malam, ke McDonalds. Tepat 200 meter sebelum restoran, terdapat segerombol pemuda yang sedang mabuk. Kami sempat dipanggil-panggil beberapa kali. Tanpa menghiraukan mereka, kami masuk ke McDonalds dan saya memesan McNuggets isi 6.

Saat kami makan, kami berpikir suatu hal… PULANGNYA GIMANA? Jeng jeng jeng jeng. (Insert sound effect dramatis disini.)

Nugget dan minuman sudah habis, tapi kami tetap menunggu di McD yang dingin dan sepi itu. Awalnya kami ingin menumpang mobil teman yang baru pulang clubbing, tapi sepertinya mereka kelewat mabuk untuk membalas BBM saya. Akhirnya… kami minta diantar satpam sampai melewati orang-orang itu. Kejadian yang sangat bodoh, sekaligus menyenangkan.

New Kuta Golf, Pecatu, Bali.
Juli 2011.

Kambing bakar, Bebek bali, Tempura Udon, Swordfish bumbu Bali, dan masih banyak lainnya.

Untuk merayakan kembali bersamanya dua teman saya Mulky dan Tasyah, saya diajak oleh Mulky ke resort golf yang dikelola oleh ayahnya, di daerah Dreamland. Awalnya saya cukup malas-malasan, tapi dikarenakan ajakan mereka yang berulang-ulang, jadilah saya berangkat ke sana walaupun pesawat saya berangkat ke Jakarta siang itu.

Setiba kami di resort tersebut, saya diharuskan untuk mengendarai mobil golf untuk berkeliling. Saya mendapat jatah mobil bersama Ditol, dan kami berdua sebagai raja dan ratu ugal-ugalan seringkali tertawa sendiri ketika mobil yang kami kendarai bergerak dengan tidak stabil.

Tujuan kami adalah salah satu hole yang terletak di tebing ujung pantai Pecatu. Dan, setiba kami disana… Tempat itu adalah tempat dengan pemandangan paling indah yang pernah saya lihat seumur hidup saya. Hamparan hijau rumput lapangan golf, biru tua dan putih gelombang ombak di lautan, dan biru muda dan putih dari langit dan awan yang bergulung-gulung. Saya hanya bisa mensyukuri pemandangan itu, sambil terus sibuk berfoto disana dan disini tentunya. Hahaha.

Setelah kenyang dengan pemandangan, maka kami pergi ke bagian country club dari resort golf itu. Disana, sang chef utama sudah menunggu dengan belasan hidangan istimewa, salah satunya bahkan menjadi favorit Pak Presiden SBY! Tergoda dengan deskripsi itu, saya mencicipi satu-persatu hidangan sedikit demi sedikit. Mulai dari kambing bakar yang gurih dan tidak berbau, udon yang nikmat, sampai swordfish kesukaan SBY yang ternyata memang luar biasa enak.

That was what I call as living on the first class.

Origin, Bandung
Juli 2011.

Fried Mushroom. Spicy Salmon Pasta. Warm Chocolate Date.

Probably one of my best date in my ephemeral relationship with her. We talked, talked, talked, and talked about things. We ate the mushroom and you said that it tasted funny. Such a weird word, but I will remember that forever. Funny.

You were funny. We had fun.

—-

Bagian selanjutnya, adalah salah satu momen yang berhasil mengubah hidup saya sepenuhnya. World Schools Debating Championship 2011 di Dundee, Scotland.

—-

Dundee University Students Union, Scotland.
Agustus 2011.

Vegetarian Sausages.

Sarapan pagi pertama kami di Dundee. Makanan sosis yang terbuat dari sayur ini akan selalu mengingatkan saya pada betapa tegangnya hari-hari pertama kami disana. Dikelilingi orang-orang pintar, dengan wajah-wajah yang meyakinkan, mentalitas saya drop total. Tidak ada sapaan ramah ke team lain. Tidak ada jabat-jabat tangan yang meyakinkan. Mengutip perkataan senior debat saya Irfan, we were one of those Asian teams who have mutual gloominess that only God knows why. So stereotypical.

Bonar Hall, University of Dundee, Scotland.
Agustus 2011.

Boiled Vegetables, and some Kosher Chicken.

Malam itu harusnya menjadi reception dinner dari semua peserta, dan kami terlambat datang. Sungguh merusak citra bangsa. Kami disambut dengan nyanyi-nyanyian tradisional Skotlandia, serta makanan tradisionalnya yang… TIDAK MEMILIKI RASA SAMA SEKALI. Bayangkan… sayur-sayuran segar direbus dan diberi sedikit garam. That’s all. Dikarenakan kami ingin makan sesuatu yang memiliki rasa, akhirnya kami terpaksa mencuri sedikit ayam dengan gravy dari meja makanan kosher. Maafkan kami, team Israel.

Malam itu juga menjadi bukti bahwa saya saat itu sangat-sangat takut. Belum pernah sebelumnya saya menghadiri pesta-pesta seperti ini, dengan semua orang mengenakan jas dan gaun terbaik mereka. Berdiri membawa wine atau champagne dengan sangat flawless. Saya mengalami sindrom third world country, dan yang saya inginkan hanyalah pulang.

Seabraes Dormitory, Dundee, Scotland.
Agustus 2011.

Tumis tahu dan telur, Rendang, dan Indomie Rebus.

Akhirnya, setelah mengetahui bahwa makanan di Dundee hampir semua tidak ada yang bisa dimakan, kami lebih sering menghabiskan hari-hari di kamar kami sendiri. Makan pagi dan malam bersama team-team lain makin jarang dilakukan. Sosialisasi hanya dalam jumlah yang sangat terbatas. Teman baik kami hanyalah Rendang daging, paru, dan telur hasil menyelundupkan di koper, serta berbungkus-bungkus mie instan berbagai jenis. Terdengar menyedihkan? Memang. Ini adalah salah satu masa yang paling saya sesali selama perjalanan ini. Syukurlah Rendangnya enak dan tidak cepat basi.

George Heriot’s High School, Edinburgh, Scotland.
Agustus 2011.

Rocky Road

Ditengah-tengah ronde-ronde debat yang penuh kesalahan, kegagalan, dan kesedihan (jujur banget ya), kami mendapatkan sebuah oase di padang pasir: sebuah one-day trip ke ibukota kesenian Inggris Raya (atau bahkan, dunia!) E-D-I-N-B-U-R-G-H! Kota yang menurut kebanyakan orang lebih cantik dari London ini memang rupanya sangat amat cantik, dengan bangunan klasik mereka yang dimulai dari zaman Medieval. Salah satu cemilan yang berkesan adalah Rocky Road, yaitu sejenis coklat yang dicampur dengan marshmallow, nougat, dan berbagai manisan lainnya. Satu saja sudah membuat kami hampir diabetes, tapi memang makanan ini enak luar biasa!

Setelah mendapat sedikit sambutan di sekolah yang mulai dibangun sejak tahun 1300-an ini, kami semua pergi keliling kota Edinburgh naik bis dengan atap terbuka. Hari itu langit begitu biru. Kami berkeliling jalanan utama kota Edinburgh dan saya benar-benar terpana. Inilah dunia.

Setelah turun dari bis, kami mendapat kesempatan untuk berjalan-jalan sesuai dengan keinginan kami. Perjalanan dimulai dari gedung parlemen Skotlandia yang baru, dimana saya melihat pameran Associated Press World Press Photo 2011 yang sangat mencengangkan. Selanjutnya, kami menyusuri Royal Mile, jalan pertama di Edinburgh yang berujung di Edinburgh Castle, sambil berbelanja. Terakhir, perjalanan ditutup dengan sebuah trip edukatif ke National Museum of Scotland yang sampai saat ini masih jadi museum favorit saya sepanjang masa.

Saya jatuh cinta pada Skotlandia.

St. Andrews, Scotland.
Agustus 2011.

Scottish Tablet Ice Cream, B. Janneta’s Gelateria and Fish and Chips, Tailend restaurant.

St. Andrews. Terkenal setelah heboh pertemuan antara Will dan Kate, tempat ini sebetulnya merupakan kota golf dan kota pelajar kecil yang terletak di pinggir pantai. Kesan pertama kami: sangat dingin. Bahkan autumn di Boston saja tidak sedingin summer di kota ini. Walau cuaca dingin, kami tetap memberanikan diri untuk mencoba salah satu die-die-must-try dari kota ini, yaitu es krim Janneta’s. Saya mencoba rasa ciri khas mereka, yaitu es krim dengan campuran Scottish Tablet, sejenis fudge / manisan karamel dengan caramel swirls diatasnya. Rasanya… Bayangkan saja sendiri. Lagi-lagi saya khawatir terkena diabetes.

Yang berkesan selanjutnya adalah Fish and Chips dari restoran Tailend. Konon kabarnya, untuk Fish and Chips, restoran ini adalah restoran terenak se-Inggris raya. Bayangkan, ikan segar dimasak di tepung roti, disajikan dengan saus tartar dan kacang polong yang di-mashed. Kualitas ikannya nomer wahid, dan bumbunya begitu sederhana, seperti layaknya makanan-makanan Eropa lainnya.

Mungkin makanan itu adalah satu-satunya makanan Skotlandia yang saya suka.

Caird Hall, Dundee, Scotland.
Agustus 2011.

Strawberry Parfait.

Penutupan WSDC. Gala Dinner. Sebelumnya, kami menyaksikan kemenangan Singapura yang begitu gilang gemilang. Semua orang berpakaian dengan pakaian daerah. Kami memakai batik. Makanan yang berkesan: strawberry parfait. Manis dan masam disaat yang bersamaan, seperti perasaan saya. Ini membuktikan, when it comes to dessert, British is the best. Pulang dan berfoto-foto di pusat kota Dundee yang sepi. Akhir dari perjalanan yang membuat semua rasa tercampur aduk ini.

Di akhir makan malam inilah muncul keinginan saya untuk mempopulerkan semua makanan Indonesia ke luar negeri. Karena, jika ditanya, apa makanan yang paling enak yang kamu makan selama kamu berada di Skotlandia? Jawabannya simpel: Rendang.

Emirates EK028.
Agustus 2011.

Lamb Rendang and Sticky Caramel Pudding.

The plane back home. The most emotional moment. I’ve spent the first three hours with regrets, because I’ve lost my WSDC Dundee T-Shirt and I forgot to buy University of Dundee’s sweater. I also had my emotional contemplation about what should I do after the competition. I thought a lot about my life, and how I should live it.

It was the most life-changing moment in my 2011, and a hearty plate of chicken with cream sauce accompanied me during the flight. However, the most unforgettable meal was my friend’s lamb rendang. So tender, so delicious, bursting with flavor. Too bad my stewardess was running out of it when I ordered the thing. The caramel pudding was divine, by the way.

So, my ten days intercontinental journey ended there. Life pushed me down, but I got back up. It felt like a rebirth.

There goes the shy and inferior Iyo. After the plane ride back home, I decided to be brave.

And my life keeps getting better after that.

—-

To be continued to part 3: The USA!

  1. nona-laras said: Bikin laper, yo. :|
  2. iyo posted this